Selasa, 23 September 2008

Pengolahan Daging Sampah di Jakarta Barat


Penemuan daging sampah yang diolah kembali dan dipasarkan ini ternyata sudah merambah ke sejumlah pasar tradisional di Cengkareng Jakarta Barat. Curiga melihat perjalanan usaha tersebut yang telah berlangsung lima tahun, petugas Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat kembali melakukan penelusuran.
Hasilnya, kembali ditemukan pengolah daging sampah yang lokasinya tak jauh dari penemuan pertama. Untuk itu, warga diminta mewaspadai peredaran daging sampah olahan yang sudah direkondisi. Karena disinyalir, daging sampah tersebut sudah menyebar di seluruh pasar tradisional yang ada di Jakarta Barat.
Setiap daging sampah olahan dijual pedagang seharga Rp 8.000 per kilo. Masyarakat diminta agar tidak tergiur dnegan harga murah karena kemungkinan daging siap makan yang dijual di pasar tidak layak dikonsumsi.
Chaidir Taufik, Kasudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat mengungkapkan, jika saat ini penyebaran daging sisa sampah sudah menyebar hampir di seluruh pasar besar di wilayah Kecamatan Cengkareng. Penyebaran itu di antaranya di Pasar Pos Duri Kecamatan Tambora, dan Pasar Darurat Kapuk, Pasar Timbul, Pasar Alam, Pasar Cengkareng yang semuanya berada di Kecamatan Cengkareng.
Selain itu, kata Chaidir, usaha pengolahan daging dari sampah restoran atau hotel itu ternyata masih banyak terdapat di Kecamatan Cengkareng. Pasalnya, begitu Sudin Peternakan dan Perikanan Jakbar melakukan pendalaman kasus, ditemukan tempat pengolahan serupa. Dari penelusuran timnya sejak Kamis (11/9) kemarin, ditemukan paling tidak tiga tempat produksi daging sisa sampah itu dan dua tempat penampungan sampah sebagai sumber bahan baku.
"Semuanya ditemukan di RT 07/04 Kelurahan Kapuk, tidak jauh dari tempat penggrebekan pertama," kata Chaidir, Jumat (12/9).
Saat berada di lokasi temuan baru, tim Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat tidak menemukan para produsen. Namun, dari salah satu lokasi milik Iyem ditemukan delapan kilogram daging ayam campuran yang tidak layak dikonsumsi dan langsung disita.
Sementara, Darno (50) yang sebelumnya kepergok sedang mengolah daging sisa sampah akhirnya ditangkap petugas kepolisian sekitar pukul 22.00 WIB, Kamis (11/9) malam. Darno diringkus petugas kepolisian dari Polres Jakbar karena ia terus saja melakukan pengolahan daging sampah, kendati sebelumnya sudah dingatkan untuk tidak melakukannya lagi.
Darno ditangkap langsung ketika sedang melakukan pengolahan daging sampah di rumahnya Jl Peternakan I RT 04/07 Kapuk, Cengkareng. Sejak penggerebekan pada Kamis sore, polisi memang tidak mempercayai begitu saja janji Darno yang tidak akan mengulang perbuatannya.
Polisi pun melakukan pengintaian. Sekitar pukul 22.00 WIB, polisi melihat Darno masih melakukan kegiatan serupa dan langsung digelandang ke kantor Polres Jakbar. "Saat ini Darno sedang kami periksa intensif," kata Kompol Adex Yudiswan, Kepala Satuan Narkoba Polsek Jakarta Barat, Jumat (12/9).
Karena yang dilakukannya membahayakan masyarakat seperti pemakaian pewarna tekstil serta mengolah bahan baku yang sangat tidak layak konsumsi. Darno akan dijerat dengan Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. "Siapa saja yang mengedarkan makanan yang membahayakan konsumen bisa diancam penjara 15 tahun atau denda Rp 300 juta," katanya.
Sementara itu di ruang pemeriksaan, Darno mengaku terpaksa menggoreng lagi daging sisa sampah karena tidak tahu lagi bagaimana cara mendapat uang. "Sekarang saya pasrah," katanya dengan muka sedih.

Senin, 22 September 2008

Kota Bontang

BILA Anda melakukan perjalanan malam hari dari Samarinda menuju Bontang lewat jalan darat yang gelap gulita tanpa lampu penerang jalan, sejenak akan terpesona menyaksikan pemandangan yang kontras ketika makin mendekati Kota Bontang. Dari kejauhan, cahaya benderang bagai menyembul dari sela-sela perbukitan. Taburan cahaya itu makin bersinar terang ketika Anda memasuki kota di pesisir menghadap Selat Makassar ini.
CAHAYA itu berasal dari api yang menyala dari tabung-tabung pipa filter pengolahan gas alam milik PT Badak NGL Co. Bagai obor-obor raksasa, api-api itu menerangi kota. Ditambah lagi taburan cahaya lampu yang bertebaran di berbagai sudut area kilang pengolahan gas alam cair tersebut menambah gemerlap suasana kota di malam hari.
Kota Bontang adalah kota industri yang sedang tumbuh. Hadirnya PT Badak NGL Co yang mulai beroperasi tahun 1974 disusul tiga tahun kemudian PT Pupuk Kaltim, tak dimungkiri menjadikan kota ini hidup. Padahal dulunya, Bontang hanyalah sebuah desa kecil yang sepi di bawah naungan Kabupaten Kutai. Bontang Kuala, demikian nama desa itu, kini menjelma menjadi kota yang ramai seiring dengan statusnya yang meningkat dari kota administratif menjadi kota otonom pada 1999. Bontang Kuala yang terletak di sebelah utara Kota Bontang kini, tetap menjadi perkampungan nelayan.
Membandingkan Bontang Kuala cikal bakal kota ini dengan Bontang kini, sungguh jauh berbeda. Di Kota Bontang, khususnya di dalam kawasan dua perusahaan raksasa itu, berbagai fasilitas modern dan lengkap tersedia, mulai dari fasilitas perumahan bagi karyawan perusahaan itu, tempat olahraga, rekreasi, taman-taman bermain, rumah sakit hingga hotel berbintang. Dua hotel berbintang yang megah pun berada di salah satu kompleks tersebut. Beberapa kilometer keluar dari kawasan itu menuju kawasan Bontang lama, akan terlihat rumah-rumah penduduk yang belum seluruhnya permanen, hotel-hotel melati, pertokoan dan pasar-pasar tradisional, serta jalan sempit yang belum semua beraspal.
Bontang memang tengah berbenah. Jalan-jalan sedang diperbaiki. Berbagai usaha jasa juga mulai bermunculan, seperti bank-bank swasta nasional, hotel berbintang dan restoran, serta jasa telekomunikasi seperti warung telekomunikasi dan warung internet. Sektor jasa dan industri pengolahan adalah dua lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Sebanyak 28,3 persen penduduk Bontang bekerja di sektor jasa, dan 27,3 persen di sektor industri pengolahan. Kota ini memang bertekad menjadi kota industri dan jasa. Dua perusahaan besar itulah tulang punggung perkembangan perekonomian kota ini.
Peran kedua perusahaan itu bagi pembentukan PDRB Bontang sangat dominan. Industri migas berupa gas alam cair (LNG) tiap tahun memberi kontribusi lebih 90 persen. Demikian pula industri pengolahan tanpa migas yang pertumbuhannya 5,27 persen di tahun 2001, lebih banyak dipengaruhi kegiatan PT Pupuk Kaltim Tbk.
Kegiatan industri pengolahan gas alam cair yang di tahun 2002 menyumbang lebih dari Rp 23 triliun bagi PDRB, agaknya masih menjadi andalan utama kota ini hingga 30 tahun ke depan. Selama itu pula perekonomian daerah ini diperkirakan bersumber pada sektor industri pengolahan tersebut. Padahal industri ini bersumber pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
Sumbangan PT Badak NGL Co dan PT Pupuk Kaltim Tbk bagi pembentukan PDRB Bontang sangat tinggi, mencapai lebih 90 persen. Kondisi ini membuat kegiatan ekonomi lainnya kurang terlihat perannya. Padahal keberadaan dua perusahaan itu punya andil dalam meningkatkan kegiatan perdagangan dengan munculnya kebutuhan baru akan komoditas keperluan hidup sehari-hari. Begitu pula kebutuhan sarana dan prasarana baru, baik perumahan, perkantoran, perhotelan, maupun sarana infrastruktur lainnya. Namun, peningkatan sektor perdagangan cenderung melemah secara meyakinkan dari 9 persen pada 1999 menjadi 3 persen pada 2002. Sementara sektor bangunan, meskipun cenderung berfluktuasi, sempat meningkat menjadi 12,5 persen pada 2001, dan turun 0,5 persen menjadi 12 persen pada 2002.
Pemanfaatan sumber daya alam di luar migas selama ini belum digarap optimal, seperti perikanan dan pariwisata. Potensi terbesar Bontang terletak pada sumber daya laut. Wilayah pesisir dengan pantai yang bersih, landai, berpasir putih bisa menjadi obyek wisata yang potensial. Bontang Kuala misalnya, selain menarik wisatawan karena perkampungan nelayan di atas laut, juga tengah dikembangkan sebagai obyek wisata. Kota ini memiliki potensi menjadi kota pariwisata dengan beberapa tempat andalan, Pulau Beras Basah, Pulau Segajah, serta Taman Nasional Kutai yang berdampingan dengan wilayah Kabupaten Kutai Timur.
Juga, potensi sumber daya laut berupa perikanan laut di masa datang berprospek cerah. Wilayah laut 34.977 hektar atau 70,29 persen dari luas Bontang terdiri atas, hutan mangrove 13.990 hektar, terumbu karang 8.744 hektar dan rumput laut sekitar 16 hektar. Hutan mangrove di sekitar Pulau Melahing, Agar-agar Panjang, Karang Sengajah dan Badak-badak. Ekosistem terumbu karang di sepanjang perairan laut, terutama terumbu karang tepi.
Potensi budidaya laut dengan komoditas unggulan berupa udang, kepiting, ikan kerapu, udang lobster, kakap merah, teripang, rumput laut, dan tiram yang banyak dicari pasar luar negeri. Ikan kerapu banyak terdapat di sekitar Pulau Melahing dan Kerindingan. Udang dan kepiting di perairan Tanjung Santan. Kekayaan sumber daya laut ini langsung memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Selain sebagai sumber penyediaan bahan pangan, juga penyerapan tenaga kerja.
Hasil laut tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan lokal juga mulai dipasarkan ke luar Bontang, bahkan diekspor. Tahun 2001, produksi ikan (tambak, kolam, keramba) 123,7 ton, rumput laut kering 37,25 ton, teripang 1 ton lebih, dan ikan laut 3.994 ton. Produksi perikanan laut juga mulai diolah menjadi bahan makanan , seperti ikan kering dari berbagai jenis ikan laut, cumi-cumi dan ikan teri. Juga udang papai yang banyak diminati dan terasi khas Bontang.

8 Positif HIV, 3 Meninggal di Bontang

SATU lagi kegiatan positif dilakukan mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bontang. Pada Rabu (13/8) lalu, para mahasiswa tersebut menggelar acara seminar sehari yang bertajuk “Pergaulan Sehat di Kalangan Remaja” yang diikuti perwakilan SMU/SMK dan MAN se-Bontang.
Salah satu pembicara yang cukup menarik perhatian peserta seminar adalah Hj Neni Moerniaeni yang memberikan pemaparan tentang bahaya penyakit HIV/AIDS di masyarakat.
Dalam pemaparannya, dokter ahli kandungan yang juga wakil ketua DPRD Bontang tersebut mengungkapkan tingginya angka penularan penyakit mematikan itu di banyak daerah saat sekarang ini. “Di Bontang sendiri jumlah penderita HIV/AIDS ada 8 orang dan 3 orang di antaranya telah meninggal,” ungkap Neni.
Selain Neni, tampil sebagai pembicara pada sesi awal seminar yang berlangsung di Aula SMA YPK Bontang tersebut adalah tentang bahaya pemakaian narkoba yang dibawakan personel dari Polres Bontang dan bagaimana sebaiknya pacaran sehat itu yang disampaikan staf dari Dinkes Bontang.

Ratusan Contoh Makanan di Balikpapan Diperiksa

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menepati janjinya untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) bahan makanan sebelum Ramadan. Kamis (28/8) pagi, pasar yang menjadi sasaran sidak adalah Pasar Baru. Sidak ini tak hanya dijalankan DKK, empat instansi teknis sekaligus, yakni Kantor Perikanan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop), Dinas Pertanian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga diajak.
Ratusan contoh makanan diamankan dari pasar yang terletak di Balikpapan Selatan itu. Terdiri dari ikan segar, ikan asin, ayam potong, tahu dan buah-buahan.
Kepala Seksi Farmasi DKK Balikpapan Hasnah Haerani, usai melaksanakan sidak mengatakan, contoh makanan yang diambil langsung dicek di Kantor DKK. “Sedang kita periksa. Hasilnya belum diketahui,” katanya.
Sidak ini untuk menertibkan bahan makanan yang dicurigai mengandung zat-zat berbahaya seperti formalin dan borax. Juga, dalam rangka menyambut bulan puasa.
Tak hanya sidak, pihaknya juga melakukan pembinaan dan pengawasan langsung pada pedagang di pasar. Misalnya, susu atau makanan kemasan yang dijual kemasannya tidak layak. Maka, disarankan agar tidak dijual atau dikembalikan ke agen. Demikian pula untuk makanan yang sudah kedaluwarsa, atau mendekati tanggal kedaluwarsa.
Tujuannya, agar saat puasa nanti tak ada lagi bahan makanan yang mengandung zat berbahaya yang dijual dan dikonsumsi warga.
Bahan makanan, seperti ikan segar pengawasannya akan dilakukan Kantor Perikanan Balikpapan. Sedangkan, beras diawasi oleh Dinas Pertanian Balikpapan.
Kepala DKK Balikpapan Dyah Muryani mengatakan, rencananya sidak dilakukan di semua pasar yang ada di Kota Beriman. “Sidak masih berlanjut, tak hanya di Pasar Baru,” katanya.

Bandara Hasanuddin Sebagian Hak Pemkot

Berpindahnya sebagian lokasi bandar udara Hasanuddin dari Maros ke wilayah Makassar, otomatis Pemkot Makassar memiliki hak atas bagi hasil dari pendapatan. Sehingga, diharapkan dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD). Anggota Komisi B DPRD Makassar, Asmaeni Azis, Senin (22/9) mendesak Pemkot, dalam hal ini Dinas Pendapatan Daerah, melakukan upaya peningkatan pendapatan tahun 2008, di antaranya dengan berkoordinasi Pemprov dan PT Angkasa Pura terkait pembagian pendapatan bandara. "Dengan berpindahnya bandara di sebagian wilayah Makassar maka tentu saja Pemkot memiliki hak atas pembagian hasil sehingga kami mengimbau kepada Dinas Pendapatan untuk segera melakukan koordinasi dengan pihak Angkasa Pura," imbuhnya.
 

Design by Amanda @ Blogger Buster